Pandemi yang disebabkan
oleh virus Corona (Covid-19) kali ini mungkin telah membuat banyak negara
kerepotan. Bagaimana tidak? Virus ini bahkan membuat negara-negara besar
seperti Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok tak berdaya menghadapinya.
Tiongkok
misalnya terpaksa mengalami kontraksi ekonomi dalam kuartal
pertama tahun 2020 sebesar 6,8 persen. Tak hanya dampak ekonomi, negara yang
dipimpin oleh Presiden Xi Jinping tersebut pun dikabarkan telah kehilangan sebanyak 4.633 jiwa
akibat Covid-19. Selain itu, secara total, Tiongkok juga telah melaporkan
82.830 sejak kasus pertama ditemukan.
Namun, Tiongkok
ternyata tidak sendirian. AS yang biasa disebut sebagai negara “lawannya” malah
menjadi salah satu pusat penyebaran baru dan menjadi tempat bagi jumlah kasus
positif terbanyak hingga kini.
Negara yang
dipimpin oleh Presiden Donald Trump tersebut telah melaporkan jumlah
kasus positif sebesar 987.322 kasus. Jumlah kematian akibat Covid-19 bisa
dibilang tidak sedikit, yakni sebesar 55.415 jiwa.
Layaknya ekonomi Tiongkok, kondisi ekonomi AS juga diprediksi akan
memburuk – bahkan dapat dibilang terburuk dalam sejarah. Oxford Economics
misalnya memprediksi penurunan tahunan ekonomi AS akan menunjukkan angka 12
persen.
AS sendiri juga dikabarkan
kerepotan dalam menangani Covid-19. Bagaimana tidak? Negara digdaya satu ini
dikabarkan kekurangan persediaan alat
pelindung diri (APD) dan mesin ventilator yang diperlukan untuk merawat pasien
Covid-19.
Meski begitu,
Presiden AS Trump akhir-akhir ini membanggakan bahwa perusahaan-perusahaan AS
kini telah memproduksi ventilator dalam jumlah besar.
Saking
bangganya, Trump pun berencana mengirimkan mesin-mesin ini ke berbagai negara
lain, seperti Honduras, El Salvador, dan Ekuador. Selain mengirimkannya ke
negara-negara Amerika Latin, Presiden AS juga dikabarkan juga menyediakan
sebagian untuk Indonesia.
Tak tanggung-tanggung,
kabar ini langsung diberitahukan oleh Trump ketika berbicara dengan Presiden
Joko Widodo (Jokowi) via sambungan telepon. Pembicaraan teleponnya ini turut
disampaikan oleh Presiden AS melalui cuitannya di Twitter.
![]() |
| Cuitan Presiden AS |
Cuitan Trump ini
sontak membuat beberapa pengikutnya mempertanyakan keputusan itu. Salah satu
akun Twitter yang bernama @dvillella menanyakan quid
pro quo (keuntungan timbal balik) apa yang didapatkan AS dari
Indonesia.
Mungkin,
pertanyaan yang sama juga timbul dalam tulisan ini. Mengapa tiba-tiba Trump
bersedia memberikan mesin ventilator pada Jokowi? Bukannya Presiden AS kini
memiliki doktrin politik luar negeri America First yang
menempatkan urusan AS sebagai hal yang paling penting? Bila benar begitu, apa
yang didapatkan AS dari pemberian ventilator ini?
Jokowi-Trump
Makin Lengket?
Keputusan Trump untuk bersedia mengirimkan mesin
ventilator untuk Indonesia ini bisa jadi terjadi akibat diplomasi personal yang
terjadi antara Trump dan Jokowi. Pasalnya, keduanya tampak mulai dekat dan
sering berkomunikasi, baik dalam pertemuan konferensi tingkat tinggi (KTT)
maupun via telepon.
Diplomasi personal (personal diplomacy) sendiri
sebenarnya bukan merupakan hal baru. Dalam sejarahnya, diplomasi yang
didasarkan kedekatan antarpemimpin telah lama dilaksanakan antarnegara.
Tizoc Chavez dalam disertasinya yang
berjudul Presidential Parley mendefinisikan diplomasi personal
sebagai interaksi yang melibatkan seorang pemimpin negara dengan pemimpin
negara lainnya. Istilah ini bahkan biasanya menggambarkan adanya ikatan
personal yang terbangun di antara pemimpin-pemimpin negara tersebut.
Salah satu diplomasi personal yang populer dalam
sejarah adalah ikatan personal yang terbangun antara Presiden AS Franklin
Delano Roosevelt (FDR) dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill.
Ikatan personal yang
dianggap penting di tengah Perang Dunia II tersebut bahkan turut digambarkan
dalam produk-produk budaya populer, seperti dalam film The
Darkest Hour (2017) yang mana menunjukkan Churchill
menghubungi FDR via telepon secara langsung.
Selain FDR dan
Churchill, terdapat kisah sukses diplomasi personal lain yang tercatat dalam
sejarah. Philip E. Muehlenbeck dalam tulisannya yang
berjudul Kennedy
and Touré menjelaskan bahwa Presiden AS John Fitzgerald
Kennedy (JFK) membangun diplomasi personal yang sukses dengan negara-negara
Afrika.
Di tengah Perang Dingin
dengan Uni Soviet, langkah untuk memperluas kerja sama dengan negara-negara
Afrika dianggap penting untuk membatasi pengaruh blok Timur.
Maka dari itu,
JFK merasa perlu untuk membangun ikatan personal dengan pemimpin-pemimpin
Afrika. Bahkan, JFK secara rutin mengadakan pertemuan dengan pemimpin-pemimpin
Afrika kala itu.
Salah satu
negara yang penting kala itu adalah Guinea yang dipimpin oleh Ahmed Sékou Touré
karena terdapat kekhawatiran bahwa negara tersebut dapat menjadi Kuba versi
Afrika bila masuk terlalu dalam ke orbit Uni Soviet. JFK akhirnya membangun
ikatan dan diplomasi personal dengan Touré.
Bila
presiden-presiden AS ini dapat membangun diplomasi personal dengan pemimpin
negara lain, bagaimana dengan Trump dan Jokowi?
Pergeseran
Geopolitik?
Berkaca dari FDR
dan JFK, Trump bisa jadi juga tengah membangun diplomasi personal dengan Jokowi
di Indonesia. Pasalnya, kedekatan antara dua pemimpin ini makin terlihat
semenjak KTT G20 digelar di Osaka, Jepang, pada Juni 2019 silam.
Keduanya tampak
saling berbicara dan – bahkan – Trump sempat menawarkan permen kepada Jokowi.
Presiden AS dan Presiden Indonesia kala itu juga tampak dekat dalam sesi foto
bersama pemimpin-pemimpin G20.
Tak hanya
terjadi di G20, keduanya sempat berencana akan bertemu untuk membahas berbagai
kerja sama ekonomi di bidang perdagangan dan pembangunan. Pada Februari lalu
misalnya, Trump disebutkan ingin menawarkan
proyek-proyek infrastruktur kepada Jokowi, termasuk pembangunan ibu kota negara
(IKN) baru di Kalimantan.
Meski begitu,
kedekatan yang terbangun antara Trump dan Jokowi ini masih menyisakan
pertanyaan. Pasalnya, seperti yang diketahui, Presiden AS kini memiliki
orientasi kebijakan yang lebih mementingkan kepentingan AS sendiri.
Lantas, mengapa Trump
tampak ingin membantu Jokowi dan menawarkan kerja sama-kerja sama strategis –
seperti proyek IKN? Apa kepentingan AS di baliknya?
Apa yang
dilakukan Trump kini bisa jadi menandakan adanya pergeseran kekuatan geopolitik
di Indonesia. Bila sebelumnya Tiongkok tampak mendominasi investasi dan kerja
sama pembangunan infrastruktur, AS bisa jadi kini ingin menjadi negara
penantang di Indonesia.
Hal ini bisa saja dipahami
sebagai upaya balancing (pengimbangan) pengaruh AS terhadap
pengaruh Tiongkok di Indonesia. Layaknya Kennedy, Trump bisa jadi berusaha
menggeser pengaruh negeri Tirai Bambu tersebut.
Upaya balancing seperti
ini terejawantahkan dalam teori balance of
power (BoP) dari perspektif realis di studi Hubungan
Internasional. Aristotle Tziampiris dalam tulisannya yang berjudul Balance
of Power and Soft Balancing menjelaskan bahwa balancing dilakukan
dengan melakukan kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk menyamai, melebihi,
atau memblokir kekuatan negara lain.
Guna melakukan
kebijakan seperti ini, negara dapat melakukan internal balancing dengan
memperbesar kekuatan domestiknya sendiri atau melakukan external
balancing dengan membentuk jaringan aliansi dengan
negara-negara lain.
Boleh jadi,
Trump kini telah melakukan external balancing terhadap
kekuatan Tiongkok di Indonesia. Hal ini semakin memungkinkan dengan pukulan
ekonomi yang besar bagi Tiongkok akibat pandemi Covid-19.
Upaya menggeser
dominasi Tiongkok di Indonesia ini juga terlihat semakin jelas dengan adanya
perubahan kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Jokowi. Layaknya Kennedy dan
Touré, Guinea akhirnya mulai membuka diri terhadap bantuan-bantuan AS meski
sebelumnya disebut-sebut menjadi salah satu orbit Uni Soviet di Afrika.
Hal serupa
mungkin juga terjadi dalam pembelian persenjataan dan kapal dari Rusia dan
Tiongkok yang telah dibatalkan oleh pemerintah Indonesia. Kabarnya,
pemerintah AS menawarkan pembelian pesawat-pesawat tempur canggihnya kepada
Indonesia sebagai gantinya.
Selain soal
pembelian senjata, kerja sama juga terjadi di bidang moneter dan ekonomi.
Baru-baru ini, The Federal Reserve AS (The Fed) sepakat untuk mengadakan repurchasing
agreement (repo) senilai US$ 60 miliar
dengan Bank Indonesia.
Tentu saja,
kerja sama seperti ini bisa jadi tidak hanya berhenti di sini. Jokowi dan Trump
sendiri sepakat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi pasca-pandemi Covid-19.
Siapa tahu, AS dapat menggeser dominansi Tiongkok di Indonesia – melalui proyek
infrastruktur dan IKN – ketika hari itu tiba.




Komentar
Posting Komentar