Masa Pandemik dari wabah Corono Virus Disease 2019 telah membuat dunia dalam tekanan yang sangat besar, pemerintah berbagai Negara hampir-hampir saja kehabisan protokol untuk menangani ganasnya serangan virus SARS-CoV-2, namun kali ini saya ingin mengajak anda melihat sisi lain yang berhasil dibuka oleh Covid-19.
Hampir semua berita, teori pendidikan, jurnal telah menjelaskan bahwa Eropa adalah negara dengan tingkat pendidikan yang sangat tinggi. Universitas-universitas terbaik dunia juga kumpulnya hanya di benua biru ini padahal ada banyak benua selain mereka, bahkan jika ditinjau dari kecilnya benua tersebut, kepadatan Universitas bergengsinya lebih padat dari benua lain.
Namun Covid-19 sepertinya menunjukkan hal lain dari sisi “Berpendidikan” dari negara-negara Eropa, sebagaimana kita ketahui bahwa berpendidikan itu selalu taat asas dan hidup berjalan sesuai dengan tatanan yang teoretik yang tertib.
Pembangkang di Tengah Masa Darurat
Sebut saja peristiwa Italia, sebagai salah satu bagian dari Eropa Italia, negeri spagethy ini menjadi negara dengan tingkat kematian paling tinggi di dunia. Sebut saja pada tanggal 5 April 2020, sekitar 525 jiwa dan menjadi rekor paling parah di dunia, sebelumnya pada tanggal 19 Maret 2020 terdapat 427 Jiwa dengan total per hari ini, Selasa (14/4/2020) mencapai 20.465 jiwa berdasarkan situs Johns Hopkins University and Medicine.
Tidak ada yang mengharapkan kematian dan tentu saja pemerintah Italia sudah mengambil langkah-langkah pencegahan dampak buruk Corona, namun nasib malang tetap menunjukkan Italia ada diperingkat paling buruk dalam jumlah korban meninggal.
Hal yang paling mengejutkan adalah Suka Relawan Medis yang dikirim pemerintah China untuk Italia melakukan konferensi pers dan menunjukkan bahwa tim mereka kewalahan dalam menangani perilaku penduduk Italia yang tetap tidak mengindahkan pemerintah pada masa Pandemik Covid-19 ini.
“Di sini di Milan, daerah yang paling parah dilanda COVID-19, tidak ada kebijakan lockdown yang sangat ketat. Seperti, transportasi umum masih berfungsi, orang-orang masih berkeliaran, masih ada makan malam, berpesta di hotel, dan kamu tidak mengenakan masker. Kami membutuhkan setiap warga negara untuk terlibat dalam pertarungan COVID-19 dan mengikuti kebijakan ini” jelas Sun, Pimpinan Sukarelawan Dari China untuk Italia pada konferensi di tengah parahnya Covid-19 di Italia
Bangsa yang Rasis
Tentu saja sangat sulit mengendalikan Wabah ini ditengah “ketidak-mendengaran-nya” warga italia, namun tidak sampai di sana. Ada hal lain yang telah di-reveal Covid-19 tentang sisi pendidikannya.
Pembelajaran membuat manusia menjadi pintar dan Pendidikan membawa manusia kepada pikiran yang terbuka, menerima perbedaan, dan lebih objektif. Namun jelas dalam tekanan semua orang bisa menunjukkan sifat asli yang ia sembunyikan atau paling tidak mereka berhasil sembunyikan melalui media.
Dalam kasus ini saya ingin mengajak anda berfikir tengtang rasisme di tengah kehidupan modern yang sudah penuh dengan pendidikan yang maju. Rasisme tentu saja bertolak belakang dari ciri-ciri yang disebutkan tentang berpendidikan yakni pikiran yang terbuka, menerima perbedaan, dan lebih objektif.
Namun ternyata Covid-19 berhasil membongkar seberapa rasisnya orang di daratan biru dan saya hanya ingin mengingatkan tidak kapoknya penduduk berkulit putih membawa masalah rasis tanpa pikiran yang terbuka.
Paling tidak kasus rasis terakhir di Eropa telah menelan 50 sampai 70 juta jiwa ketika Ras Arya menganggap diri mereka adalah ras yang paling pantas memimpin Eropa dan membuat Hitler memicu perang dunia II, menindas bangsa Yahudi yang dianggap rendahan dan menjadikan bangsa lain sebagai bawahan dibawa bendera Nazi.
Covid-19 telah membawa bangsa-bangsa Eropa kembali pada rasisme dimana menurut laporan dari The Guardian, pada masa awal Italy terinfeksi Corona beberapa bisnis yang dijalankan oleh etnis China menjadi tempat pelampiasan kemarahan warga Italia dengan cara merusak tempat usaha tersebut.
Padahal mereka yang membangun usaha di Italy yang menjadi korban rasis ini bukanlah warga negara China dan sebagai sudah menjadi warga negara italia, baik itu lahir dan besar di Italy.
Selain itu, orang-orang Italia menjadi enggan melakukan transaksi jual beli ke toko-toko dan usaha yang dijalankan oleh orang-orang beretnies China entah dia warga negara China atau warga sudah menjadi Warga Negara Itali.
Sebagiaman yang dikutip kembali dari The Guardian, Sonia Zhou, pengusaha restoran China yang terkenal di Pecinaan Roma, dipakas menutup tokohnya meski pada saat itu belum ada kebijakan Lock Down total dari pemerintah Italia. Gerakan rasis anti China pun semakin meningkat pasca pasien-pasien terifeksi Covid-19 di Italia meningkat.
Tidak hanya sampai disitu, beberapa restoran dan bisnis yang dijalan orang-orang Italia menulis pengumuman di pintu masuk mereka pernyataan bahwa mereka tidak akan melakukan transaksi apapun dengan orang-orang China, yah meskipun dalam tulisan tersebut termasuk orang-orang yang datang dari China, namun kenapa harus menegaskan frase orang-orang China saja padahal frase setelah jauh lebih jelas dan terdengar ilmiah.
Irasional
Pengaruh Covid-19 juga membuat Warga Negara Inggris dan Belanda menjadi Irasional setelah mendengar Hoax tentang Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dapat menyebar melalui Jaringan 5-G.
Tidak tanggung-tanggung, Warga dua negara tersebut berhasil terhasut Hoax dengan membakar Menara trasnmitter jaringan internet 5G. Tower-Tower jaringan 5G di Kota-kota seperti Rotterdam, Liessel, Beesd dan Nuenen menjadi sasaran pengrusakan sampai pembakaran disertai dengan aksi pandalisme.
Beberapa Tower bahkan dicoreti tulisan “Fuck 5G”, entah unsur masuk dalam murni Irasional atau masih terbawa unsur Rasismemengingat Jaringan 5G diperkenalkan dan dijaan oleh perusahaan Huawei yang berasal dari China juga.
Padahal sangat jelas dampak yang diakibatkan dari hilanganya jaringan 5G yang dilayani oleh tower-tower tersebut tentu saja bakalan terganggu. Hasilnya beberapa rumah sakit yang menangani masalah Corona menglami gangguan sistem telekomunikasi.
Kendati dampak buruk yang mengikuti peristiwa pembakaran jaringan 5G ini, beberapa warga di kota kota di Belanda terlihat melarang penyedia jasa internet (ISP) untuk memperbaiki Tower yang rusak tersebut.
Kejadian pembakaran dan penolakan Jaringan 5G ditengah wabah Covid-19 ini bahkan harus direspon dan diklarifikasi oleh WHO dan beberapa pakar telekomunikasi di berbagai belahan dunia.




Komentar
Posting Komentar