Langsung ke konten utama

PEMBELAJARAN DARI KASUS JAKAPHAT THOMMA DAN POTENSI ANCAMAN DI INDONESIA


Jakaphat Thomma, merupakan pria yang menjadi bahan perbincangan hangat oleh masyarakat internasional setelah ancaman wabah virus corona di Wuhan, Tiongkok. Thailand baru-baru ini digegerkan dengan adanya sebuah aksi penembakan brutal yang dilakukan oleh seorang anggota tentara Thailand dengan pangkat sersan mayor yang bernama Jakaphat Thomma. teror dilakukan oleh serma  Jakaphat ini baru mampu diredamkan oleh pasukan gabungan tentara dan kepolisian Thailand berselang 24 jam setelah aksi itu dilakukanya.

Kronologis Kejadian



Pada Sabtu 8 februari 2020 pukul 15.00 waktu setempat, di sebuah perumahan warga di daerah Nakhon Ratchasima terjadi suara tembakan yang tak lain dilakukan oleh Serma Jakaphat. Hal ini mendapatkan atensi dan satuan Jakaphat yang depat areal tersebut melakukan aksi siaga dan melengkapi setiap personelnya dengan kelengkapan lengkap baik dan juga senjata api. Menurut informasi dari komandan area kedua Thailand Letjen Thanya Khiatsarn, setelah Jakaphat mempersejatai diri, pria tersebut melakukan aksi pembantaian petugas Gudang senjata di kamp militer milik satuannya tersebut. "Dia menyerang penjaga gudang senjata hingga mati dan dia mencuri jip Humvee resmi militer dan senjata jenis HK33 dan sejumlah amunisi untuk melakukan penembakan," ujar Letjen Thanya.

Setelah melakukan pembantaian di markas, pria berusia 32th ini melarikan diri menuju pusat perbelanjaan terminal 21. Disana Jakaphat melakukan aksi terornya dengan menembak secara brutal ke warga bahkan ada yang termbak langsung dikepalanya. Dari aksi sadis Jakaphat membawa penderitaan bagi 62 orang yang mana 20 orang telah dinyatakan meninggal dan 42 orang mengalami luka baik ringan maupun berat. Dari aksinya menimbulkan kepanikan warga di area pembelanjaan tersebut yang semakin mempersulit evakuasi maupun memudahkan gerak Jakaphat. Pasukan gabungan baik tentara dan kepolisian Thailand dikerahkan oleh pemerintah.

Fakta Yang Terlapor




Jakaphat merupakan prajurit dengan pangkat sersan mayor in diketahui merupakan prajurit yang telah memiliki kemampuan dalam persenjataan dan telah memiliki kualifikasi sebagai penembak jitu di satuannya. Ditambah lagi dari keterangan tentara Thailand lainnya bahwa Jakaphat juga telah banyak menempuh pelatihan tempur baik dalam kemahiran penyerangan dan penyergapan. 

Terdapat fakta lain bahwa ada kemungkinan aksi Jakaphat kemungkinan dilandasi oleh sebuah dendam akan permasalahan kesepakatan tanah. Dalam akun facebook pribadi milik Jakaphat dituliskan "Menjadi kaya hasil dari kecurangan. Mengambil keuntungan dari kesusahan orang lain. Apakah mereka pikir mereka dapat menghabiskan uang mereka di neraka kelak?" . sembari melakukan aksi pembantaian sadis tersebut Jakaphat sempat memposting foto selfie dan menuliskan "Semua orang tidak bisa menghindari kematian. Jari-jari saya mulai keram, haruskah saya menyerah?”.

Pembelajaran Dari Kasus Ini



Dari kasus Jakaphat dapat kita ambil makna bahwa ancaman juga bisa muncul dari dalam, yakni dari oknum aparat petugas negara. Dalam hal ini dapat kita sadari betapa pentingnya sebuah negara mempertimbangkan lagi bagaimana mengatur sumber daya manusia yang seharusnya menjadi petugas pengamanan justru menyebabkan kerugian bagi negara itu sendiri. Hal ini harus menjadi sebuah pemikiran khusus dan evaluasi bagi para komandan untuk selalu dapat memantau perkembangan psikis tiap personelnya. Hal hal yang bersifat keseharian dapat menjadi sebuah pemicu sebuah permasalahan yang kompleks. Maka dari itu sumber akar permasalahan dan kondisi setiap anggota harus selalu dapat dipantau oleh pejabat ataupun para perwiranya.

Saya tidak meragukan perekrutan personel aparat di negara manapun, namun demikian perjalanan hidup seseorang masih memiliki potensi untuk mengubah kondisi psikis seseorang. Tugas komandan dan perwira setiap organisasi keamanan harus lebih ekstra dalam memantau anggotanya. Sebagai puncak manajerial personel harus dapat dirangkul sampai dengan kehidupan pribadinya. Hal ini sangat berbeda dengan sistem manajemen personel yang dilakukan sipil. Dikarenakan kesalahan fatal bagi personel aparat keamanan negara mampu memberikan efek yang sangat besar karena mereka adalah personel yang dibekali dengan ilmu dan persenjataan yang mematikan. Pemantauan psikis dan juga pelaksanaan tes psikologis yang ketat sangat perlu dilakukan secara berkala.



Dari kejadian ini harus dapat kita pikirkan lagi efek terburuk. Bagaimana apabila yang melakukan aksi tersebut bukan individu melainkan oknum aparat yang memiliki sebuah kelompok tertentu. Bisa kita jabarakan oknum kelompok tersebut sebagai aparat yang memiliki paham radikalisme atau sparatisme. Hal ini akan semakin memperburuk keadaan dan tidak mudah dalam penanganan karena pergerakan kelompok jauh lebih memberikan daya atau efek mematikan yang lebih besar.

Saat ini bahaya laten dalam tubuh aparat menjadi pertanyaan besar baik paham radikal keagamaan maupun ideologi komunis sudah sampai pada tahap mana? Untuk menghindari hal tersebut sangat perlu terdapat kajian kajian yang mendalam dalam manajemen sumber daya manusia dan perubahan system keamanan yang lebih baik kedepan. Jangan sampai Indonesia masuk kedalam lubang kesalahan yang sama.

Komentar

Popular Post

'PUBLIC SERVICE' ITU LADANG KONTRIBUSI ATAU LADANG EKSISTENSI?

Dunia maya kembali diramaikan dengan adanya sosok pria berseragam. Dilansir dari laman twitter @kapansarjana_, terdapat sebuah video yang menampakkan sosok polisi yang sedang memegang senjata dan berkata "Pacar kamu ganteng? Kaya? Bisa gini nggak?" sambil mengokang senjata yang dibawanya. Hal ini menimbulkan berbagai respon dari netizen. Menurut hemat penulis, hal ini wajar terjadi karena setereotip yang berlaku di masyarakat tentang pria berseragam. Namun, apakah menjadi wajar ketika membenci mereka kita menghujat mereka? Lalu dimanakah letak kesalahan pria berseragam sehingga dibenci khalayak ramai? Sejauh ini menjadi pria berseragam mungkin menjadi tujuan bagi beberapa orang. Entah alasan karir, menjadi penerus keluarga, ataupun alasan lain. Namun, yang perlu digaris bawahi dalam hal ini adalah resikonya. Bila sudah berstatus sebagai pria berseragam atau istilah kerennya A Man With Uniform, berarti harus siap disorot sebagai Pelayan Publik (Public Service). Tapi, sejauh in...

BEM UI RAMAI LAGI

BEM Universitas Indonesia kini ramai diperbincangkan kembali setelah memuat postingan yang cukup kontroversial. Melalui akun @BEMUI_Official, organisasi kampus tersebut langsung menyebut Presiden Joko Widodo sebagai King of Lip Service. Hingga sore ini, sebuah pesan bergambar Presiden Joko Widodo yang bermahkota merah telah mendapat lebih dari 19.000 likes dan ribuan komentar online. Fathan Mubina, seorang penghubung yang tercantum dalam pesan yang dikonfirmasi, mengungkapkan bahwa pihaknya merasa apa yang dikatakan orang nomor satu di berbagai saluran berita tidak sesuai dengan kenyataan. “Kami memiliki banyak masalah sosial dan politik yang perlu ditangani sebagai tugas utama di BEM. Dan beberapa di antaranya berurusan dengan presiden,” kata Fathan kepada TribunJakarta melalui telepon, Minggu (27 Juni 2021). “Dalam pemberitaan media (Presiden Jokowi) menyatakan tidak sejalan dengan pelaksanaannya, dan berusaha menunjukkan bahwa pelaksanaan pernyataan tersebut tidak serius, jadi berbe...

JOKOWI CARI MENTERI LAGI?

Kabar tentang reshuffle atau perombakan kabinet menggelinding dan menjadi bola liar usai Presiden Jokowi memarahi para menterinya di sidang kabinet. Reshuffle kabinet atau perombakan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju ini menjadi isu hangat yang terus menguat, terutama di kalangan partai politik. Isu ini menjadi perbincangan dan pergunjingan publik usai video rekaman rapat kabinet yang mempertontonkan kemarahan Jokowi dan akhirnya menjadi viral. Berbagai analisa dan asumsi bertaburan, baik di media massa, forum diskusi dan kedai kopi. Bahkan kalangan rakyat kecil pun ikut menyoroti hal ini. Wacana perombakan kabinet terlontar langsung dari mulut Jokowi. Ia kesal dan tak puas dengan kinerja para pembantunya di Kabinet Indonesia Maju. Kekecewaan dan kemarahan itu tampak dari kalimat-kalimat yang disampaikan Jokowi kala membuka sidang kabinet paripurna di Istana Negara. Gotong Royong Antar Menteri Mulai Luntur? Kabinet Indonesia Maju merupakan kabinet yang dirancang secara visioner da...