Langsung ke konten utama

“ROBOTIC AND AUTONOMOUS SYSTEM” MENJADI KEBUTUHAN STRATEGI DALAM MILITER


Dominasi militer Amerika Serikat tidak lagi menjamin Amerika memegang puncak kekuatan militer dunia. Hal ini dikarenakan kompetitior dalam dunia militer telah secara diam diam menutup perbedaan kekuatan sementara Amerika yang sedang disibukkan dengan peperangan termasuk perang di timur tengah. Saat ini departemen pertahanan (D.o.D) Amerika. mulai menyadari bahwa mereka tidak lagi mampu memberikan jaminan kepada prajuritnya akan keunggulan para prajuritnya dimedan tempur dari sisi teknologi. Hal ini kemudian mendorong D.o.D berambisius untuk melaksanakan program modernisasi untuk memastikan keunggulan A.S di masa depan. Strategi Offset Ketiga, merupakan strategi lanjutan dari Strategi Offset Kedua yang terjadi pada Perang Dingin. Dalam strategi offset ketiga ini difokuskan pada peningkatan teknologi baru dan taknologi penghancur. Secara khusus interaksi kerja antara manusia dan mesin yang sering disebut juga sebagai tim tanpa awak, kedepan akan semakin mengintegrasikan kemampuan pada manusia dengan autonomous system (AS) atau kecerdasan buatan sehingga dapat meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan yang lebih baik. Hal ini memungkinkan Amerika kedepan untuk beraksi lebih cepat dari ancaman dan menguasai dominasi dalam pengambilan keputusan dipeperangan. Hal ini juga dilakukan oleh kompetitor Amerika yang telah mengembangkan proyek pengembangan strategi robotik dan autonomous system dalam industri militer mereka. Russia saat ini telah menjalankan proyek untuk menciptakan robot otonom yang kompleks.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah meminta Komite Industri Militer Rusia agar industri pertahanan mereka untuk menciptakan robot otonom yang kompleks. Saat ini mereka telah menetapkan tujuan untuk menggantikan 30 persen dari semua teknologi militer dengan RAS yang direncanakan pada 2025. Sebagai langkah nyatanya mereka sedang dalam mengembangkan beberapa model kendaraan tempur yang mampu dioperasikan dari jarak jauh yang dirancang untuk berbagai misi dan juga RAS untuk pertempuran langsung.

Selain Russia saat ini juga Cina memulai membuat langkah besar dalam RAS yang telah mempelajari sistem tanpa awak milik A.S. dan mengadopsi Strategi Offset Ketiga. Para Pemikir militer Cina berpendapat bahwa AS sangat berkontribusi pada revolusi dalam teknologi militer. Kedepan militer dinilai akan bergantung pada platform berupa senjata jarak jauh, ketepatan, senjata pintar, dan tanpa awak. Tujuan utama negeri Bambu tersebut terhadap RAS khususnya kecerdasan buatan adalah untuk menjadi pesaing dalam dominasi perang "cerdas" kedepan.

SEJARAH R.A.S.


Dalam kurung waktu 70 tahun terakhir, Departemen Pertahanan A.S. telah memanfaatkan teknologi militernya untuk mempertahankan keunggulan teknoknologi militernya dibandingkan para kompetitornya. Mantan presiden Dwight D. Eisenhower mengembangkan Strategi Offset Pertama pada tahun 1953, dengan sebutan "Tampilan Baru,". Strategi offset pertama memanfaatkan keunggulan nuklir Amarika untuk mencegah ancaman dari agresi Rusia yang luar biasa. Mengadopsi pendekatan strategi ini DoD mampu mengurangi kekuatannya hingga 40 persen antara tahun 1954 dan 1957. Setalah itu ketika Rusia mencapai puncak nuklir pada tahun 1970-an, Menteri Pertahanan Harold Brown kemudian meniru pendekatan Eisenhower dan mengembangkan Strategi Offset Kedua. Strategi kedua berfokus pada ketepatan, jarak jangkauan yang luas - amunisi terintegrasi, platform tersembunyi dan intelijen canggih, pengawasan serta pengintaian untuk mempertahankan keunggulan dalam persaingannya. Upaya ini dinilai berhasil dengan kekalahan telak dari Irak selama Operasi Badai Gurun. Pasca perang tersebut dunia mengakui akan dominasi perang konvensional Amerika Serikat.

KONDISI SAAT INI


Setelah lebih dari 15 tahun konflik yang berkepanjangan, Kompetitor Amerika perlahan mulai mendekati teknologinya dengan berinvestasi dalam teknologi modern yang sebelumnya dimonopoli oleh militer amerika. Mantan menteri Pertahanan Chuck Hagel bergerak mencari cara untuk mengalahkan musuh amerika di masa depan. Hal ini kemudian mengumumkan niat DoD untuk menerapkan Strategi Offset Ketiga dengan fokus pada robot, kecerdasan buatan, dan mesin pembelajaran dengan terintegrasi AS. Dalam mengejar teknologi RAS, Angkatan Darat Amerika berupaya mengatasi tiga tantangan masa depan di lingkungan operasi yang meliputi: kecepatan dalam mengambil tindakan dan keputusan yang lebih besar di medan perang, peningkatan penggunaan RAS oleh musuh dan lingkungan yang semakin kompleks. 


Untuk mengatasi tantangan ini, Angkatan Darat amerika harus memanfaatkan peluang teknologi untuk pengembangan RAS yang bertujuan untuk mendukung integrasi sistem tanpa awak. Pada 27 Februari 2017 Pusat Integrasi Kemampuan Angkatan Darat atau yang disingkat ARCIC memulai untuk mengembangkan Strategi RAS. Saat ini, Angkatan Darat memiliki lebih dari selusin program robotik yang bertujuan untuk memajukan pengembangan sistem tanpa awak. Strategi RAS mengidentifikasi lima tujuan kemampuan untuk memandu pengembangan teknologi anatra sistem udara dan darat:

• Meningkatkan Kesadaran Situasional. Medan perang yang kompleks dan tuntutan atas kemampuan penanggulangan musuh membatasi kemampuan Prajurit untuk melihat dan bertempur lebih jauh. Peningkatan jumlah pesawat terbang dan sistem darat di tingkat batalion akan memungkinkan pengawasan dan pengintaian di area yang luas. Rucksack-portable Unmanned Aircraft Systems (UAS) seperti Short-range Micro (SRM) memanfaatkan AS memungkinkan pasukan taktis untuk melakukan pendekatan dengan musuh.

• Meringankan Beban Fisik Dan Kognitif Para Prajurit. Tuntutan penggunaan perlengkapan militer yang kompleks saat ini kepada Prajurit yang dikerahkan ke medan tempur dapat mengurangi stamina dan daya tahannya. AS seperti Squad Multi-purpose Equipment Transport (SMET) dapat secara drastis meringankan beban peralatan dengan membawa hingga 1.000 pon peralatan penting misi untuk tim atau pasukan. Setelah terbukti manfaatnya dalam beberapa percobaan, Angkatan Darat bermaksud untuk mendapatkan 80 platform SMET untuk mengembangkan konsep lebih lanjut untuk meningkatkan kecepatan, stamina, dan efektivitas Tentara.

• Mempertahankan kekuatan dengan peningkatan distribusi, cara kerja, dan efisiensi. Distribusi logistic merupakan sumber daya bagi prajurit yang bersifat rentang khususnya pada jalur pasokan yang semakin jauh. Maka penting untuk pengembangan menggunakan campuran kendaraan berawak dan tanpa awak dalam operasi konvoi. Teknologi penyelamatan ini dilakukan dengan menggunakan radio jarak pendek khusus dan algoritma perilaku terkomputerisasi untuk memungkinkan beberapa truk mengikuti truk berawak utama. Sistem tanpa awak, baik udara dan darat, akan membantu memasok unit pada titik kebutuhan utamanya.

• Memfasilitasi Gerakan dan Manuver. Angkatan Darat musuh sudah pasti akan menggunakan teknologi baru dan pada jarak jauh dalam jangkauan. Selain itu akan ada hambatan yang mengancam pergerakan dan manuver di sepanjang rute yang akan dilalui. Kendaraan tempur tanpa awak semi-AS mencontohkan konsep tim berawak-dan tanpa awak dengan beroperasi di depan unit manuver untuk meningkatkan perlindungan pasukan dan waktu serta ruang di mana formasi Angkatan Darat beroperasi. Kendaraan tempur tanpa awak menciptakan pengalihan lawan dan tingkat pengamana antara musuh dan kawan dengan membetuk formasi yang aman sehingga memberikan opsi kepada komandan.

• Melindungi Kekuatan. Tidak jauh berbeda dengan saat ini kedepan pun mengharuskan pasukan untuk melakukan pembersihan rute yang akan dilalui untuk menghindari ancaman dari senjata peledak yang ditanam atatu telah disiapkan oleh musuh yang dapat mengancam kekuatan kawan. Teknologi RAS seperti Common Robotic System – Individual (CRS-I) dan Route Clearance Interrogation System (RCIS) akan meningkatkan kemampuan bertahan dari ancaman musuh.

Sumber dan bahan referensi : the institue of landwarfare at the association of the united states army

Komentar

Popular Post

'PUBLIC SERVICE' ITU LADANG KONTRIBUSI ATAU LADANG EKSISTENSI?

Dunia maya kembali diramaikan dengan adanya sosok pria berseragam. Dilansir dari laman twitter @kapansarjana_, terdapat sebuah video yang menampakkan sosok polisi yang sedang memegang senjata dan berkata "Pacar kamu ganteng? Kaya? Bisa gini nggak?" sambil mengokang senjata yang dibawanya. Hal ini menimbulkan berbagai respon dari netizen. Menurut hemat penulis, hal ini wajar terjadi karena setereotip yang berlaku di masyarakat tentang pria berseragam. Namun, apakah menjadi wajar ketika membenci mereka kita menghujat mereka? Lalu dimanakah letak kesalahan pria berseragam sehingga dibenci khalayak ramai? Sejauh ini menjadi pria berseragam mungkin menjadi tujuan bagi beberapa orang. Entah alasan karir, menjadi penerus keluarga, ataupun alasan lain. Namun, yang perlu digaris bawahi dalam hal ini adalah resikonya. Bila sudah berstatus sebagai pria berseragam atau istilah kerennya A Man With Uniform, berarti harus siap disorot sebagai Pelayan Publik (Public Service). Tapi, sejauh in...

BEM UI RAMAI LAGI

BEM Universitas Indonesia kini ramai diperbincangkan kembali setelah memuat postingan yang cukup kontroversial. Melalui akun @BEMUI_Official, organisasi kampus tersebut langsung menyebut Presiden Joko Widodo sebagai King of Lip Service. Hingga sore ini, sebuah pesan bergambar Presiden Joko Widodo yang bermahkota merah telah mendapat lebih dari 19.000 likes dan ribuan komentar online. Fathan Mubina, seorang penghubung yang tercantum dalam pesan yang dikonfirmasi, mengungkapkan bahwa pihaknya merasa apa yang dikatakan orang nomor satu di berbagai saluran berita tidak sesuai dengan kenyataan. “Kami memiliki banyak masalah sosial dan politik yang perlu ditangani sebagai tugas utama di BEM. Dan beberapa di antaranya berurusan dengan presiden,” kata Fathan kepada TribunJakarta melalui telepon, Minggu (27 Juni 2021). “Dalam pemberitaan media (Presiden Jokowi) menyatakan tidak sejalan dengan pelaksanaannya, dan berusaha menunjukkan bahwa pelaksanaan pernyataan tersebut tidak serius, jadi berbe...

JOKOWI CARI MENTERI LAGI?

Kabar tentang reshuffle atau perombakan kabinet menggelinding dan menjadi bola liar usai Presiden Jokowi memarahi para menterinya di sidang kabinet. Reshuffle kabinet atau perombakan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju ini menjadi isu hangat yang terus menguat, terutama di kalangan partai politik. Isu ini menjadi perbincangan dan pergunjingan publik usai video rekaman rapat kabinet yang mempertontonkan kemarahan Jokowi dan akhirnya menjadi viral. Berbagai analisa dan asumsi bertaburan, baik di media massa, forum diskusi dan kedai kopi. Bahkan kalangan rakyat kecil pun ikut menyoroti hal ini. Wacana perombakan kabinet terlontar langsung dari mulut Jokowi. Ia kesal dan tak puas dengan kinerja para pembantunya di Kabinet Indonesia Maju. Kekecewaan dan kemarahan itu tampak dari kalimat-kalimat yang disampaikan Jokowi kala membuka sidang kabinet paripurna di Istana Negara. Gotong Royong Antar Menteri Mulai Luntur? Kabinet Indonesia Maju merupakan kabinet yang dirancang secara visioner da...