Langsung ke konten utama

KONFLIK IRAN-AS BAKAL MENJURUS KE WORLD WAR III?



 

Berdasarkan informasi, alasan di balik serangan AS tersebut tidak lain untuk menghalau serangan tentara Iran yang dinilai membahayakan pasukan dan kepentingan AS di Timur Tengah. Pihak Pentagon menduga Qassem dan sejumlah petinggi militer Iran sedang menyusun rencana jahat untuk menyerang diplomat dan militer AS  di Timur Tengah. Untuk itu, Presiden AS, Donald Trump menyebut mencegah aksi tersebut melalui serangan terlebih dahulu. Selain Jenderal Qassem Soleimani, 6 orang lainnya juga dinyatakan tewas dalam serangan tersebut, termasuk Abu Mahdi al-Muhandis yang menjabat wakil komandan dari kelompok milisi pro-Iran di Irak yang bernama Pasukan Mobilisasi Populer (PMF).

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengecam keras aksi brutal AS yang menewaskan perwira tinggi Iran tersebut. Khamenei menyebut pihaknya tidak akan tinggal diam atas aksi bejat AS. Iran menyatakan keras akan membalas dendam. Atas insiden itu, kedua belah pihak pun terlibat percekcokan dan saling menyalahkan. AS mengklaim aksi penembakan tersebut tak beralasan sebab posisi pesawat masih berada di zona internasional. Sedangkan, Iran menyebut Global Hawk sudah masuk ke wilayah Iran dan sah untuk dijatuhkan.

Dengan begitu, insiden teranyar yang turut menewaskan Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran, Qassem dapat dibaca sebagai kelanjutan konflik AS-Iran sebelumnya. Menariknya, peristiwa ini banyak mendapat tanggapan masyarakat dunia, di mana sebagian besar menghubungkan fenomena tersebut sebagai penanda Perang Dunia III (PD III).

Lantas, jika benar hal itu terjadi, di mana posisi Indonesia? Apakah Indonesia akan mendukung salah satu dari kedua negara berkonflik, atau tidak sama sekali alias Non-Blok seperti dahulu?




PASANG SURUT HUBUNGAN IRAN-AS 


Iran menjanjikan balas dendam yang keras usai serangan udara Amerika Serikat (AS) di Baghdad pada hari Jumat menewaskan Jenderal Qassem Soleimani. Jenderal Qassem Soleimani adalah komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC),paskan elite Iran.

AS mengatakan serangan itu bertujuan untuk mengganggu "serangan yang akan terjadi" yang akan membahayakan pasukan dan kepentingan Amerika di Timur Tengah. Beberapa dekade sebelum jadi musuh bebuyutan, Amerika dan Iran pernah jadi sekutu, yakni era rezim Shah Mohammed Reza Pahlavi.
Berikut ini kronologi peristiwa besar dalam hubungan antara Iran dan Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari Reuters, Sabtu (4/1/2020).

1953-CIA membantu mengatur penggulingan Perdana Menteri Iran Mohammed Mossadegh yang populer, memulihkan kekuasaan Shah Mohammed Reza Pahlavi.

1957-Amerika Serikat dan Iran menandatangani perjanjian kerjasama nuklir sipil.

1967-Amerika Serikat memberi Iran reaktor nuklir bersama dengan bahan bakar uranium yang diperkaya 93 persen level senjata.

1968-Iran menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir yang mengizinkannya untuk memiliki program nuklir sipil sebagai imbalan atas komitmen untuk tidak memperoleh senjata nuklir.

1979-Revolusi Islam Iran memaksa rezim Shah yang didukung AS melarikan diri. Ayatollah Ruhollah Khomeini kembali dari pengasingan dan menjadi imam agama tertinggi. Saat itu, para mahasiswa fundamentalis merebut Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera banyak staf diplomatik Washington.

1980-Amerika Serikat memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, menyita aset Iran dan melarang sebagian besar perdagangan dengan negara para Mullah itu. Kala itu, misi penyelamatan para sandera yang diperintahkan oleh Presiden Jimmy Carter gagal.

1981-Iran melepaskan 52 sandera AS setelah Carter lengser dan Ronald Reagan dilantik sebagai presiden AS.

1984-AS memasukkan Iran sebagai negara sponsor terorisme.

1986-Reagan mengungkapkan perjanjian senjata rahasia dengan Teheran yang melanggar embargo senjata AS.

1988-Kapal perang AS, Vincennes, keliru menembak jatuh pesawat penumpang Iran di atas perairan Teluk. Insiden itu menewaskan seluruh orang di dalam pesawat, yakni 290 orang.

2002-Presiden George W. Bush menyatakan Iran, Irak, Korea Utara sebagai "poros kejahatan (axis of evil)". Para pejabat AS menuduh Teheran mengoperasikan program senjata nuklir rahasia.

2006-Washington mengatakan bersedia untuk bergabung dengan perundingan nuklir multilateral dengan Iran jika negara itu menangguhkan pengayaan nuklir.

2008-Bush untuk pertama kalinya mengirim seorang pejabat untuk secara langsung mengambil bagian dalam negosiasi nuklir dengan Iran di Jenewa.

2009-Presiden Barack Obama memberi tahu para pemimpin Iran bahwa dia akan mengulurkan tangan jika mereka "melepaskan kepalan tangan mereka".

2009-Inggris, Prancis dan Amerika Serikat mengumumkan bahwa Iran sedang membangun situs pengayaan uranium rahasia di Fordow.

2012-Undang-Undang AS memberi Obama wewenang untuk memberi sanksi kepada bank asing jika mereka gagal mengurangi impor minyak Iran secara signifikan. Penjualan minyak Iran anjlok, memicu kemerosotan ekonomi.

2013-Para pejabat AS dan Iran memulai pembicaraan rahasia yang intensif pada 2013 tentang masalah nuklir.

2013-Hassan Rouhani terpilih sebagai presiden Iran dengan tujuan meningkatkan hubungan Iran dengan dunia dan ekonominya.

Pada bulan September, Obama dan Rouhani berbicara melalui telepon, kontak tingkat tertinggi antara kedua negara dalam tiga dekade.

Pada bulan November, Iran dan enam negara besar mencapai persetujuan untuk kesepakatan nuklir "Joint Plan of Action". Iran setuju untuk mengekang pekerjaan nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi secara terbatas.

2016-Iran melepaskan 10 pelaut AS yang ditangkap di perairan teritorial Iran. Amerika Serikat dan Iran melakukan pertukaran tahanan.

2018-Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir pada Mei, dan menerapkan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan terhadap Iran.

2019-AS menunjuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebagai "organisasi teroris" pada bulan April.

Iran mengatakan pada bulan Mei akan meningkatkan produksi uranium yang diperkaya, membatalkan komitmennya berdasarkan perjanjian nuklir 2015.

Kapal-kapal tanker minyak diserang di perairan Teluk Persia pada bulan Mei dan Juni. Amerika Serikat menyalahkan Iran, sebuah tuduhan yang dibantah Teheran.

Iran menembak jatuh sebuah pesawat nirawak mata-mata AS, RQ-4 Global Hawk, pada bulan Juni yang diklaim berada di wilayah udara Iran. Iran juga menangkap sebuah kapal tanker minyak Inggris pada bulan Juli.

Kilang minyak minyak milik pemerintah Arab Saudi diserang pada bulan September oleh drone bersenjata dan rudal yang diyakini berasal dari Iran. Teheran membantah terlibat.

Pada bulan Desember, serangan terhadap pangkalan militer AS di Irak menewaskan seorang warga AS. Amerika Serikat menyalahkan milisi Irak yang didukung Iran dan menyerang basis-basis milisi itu sebagai pembalasan. Sebanyak 25 milisi Kata'ib Hizbullah tewas.

Milisi yang didukung Iran melakukan protes di luar Kedutaan Besar AS di Baghdad, menyerbu pos keamanan kedutaan.

AS melakukan serangan udara di Bandara Internasional Baghdad, Irak, Jumat (3/1/2020) dini hari. Serangan ini menewaskan Jenderal Qassem Soleimani dan enam orang lainnya termasuk komandan mislisi Syiah Irak.

BACA JUGA : APAKAH ANGKATAN DARAT AS SUDAH MEMILIKI PERSEDIAAN SENJATA YANG CUKUP?



BERANIKAH IRAN PERANG MELAWAN AS?


Muncul Pertanyaan, beranikah Iran melawan AS? Pertanyaan ini diajukan menyusul pernyataan tegas Ali Khamenei yang menyebut akan membalas dendam atas kematian Qassem.
Jika saja perang AS-Iran benar-benar terjadi, siapakah yang menang? Banyak yang menilai kemenangan akan berpihak pada AS. Meski Begitu, sebagian menilai Iran memiliki sistem pertahanan militer yang tidak bisa diremehkan. Mari kita lihat analisa data pertahanan dibawah ini :



Jika melihat hasil dari grafik tersebut, sudah jelas siapa yang akan menang. Namun, kita juga harus merujuk pada situs Global Fire Power yang memantau militer negara-negara di dunia, Iran berada di posisi 14 dari 137 negara dalam hal kekuatan militer. Sedangkan AS berada di posisi pertama disusul Rusia, China, India, dan Prancis dalam ranking 5 besar.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, kekuatan militer Iran masih sedikit lebih unggul. Indonesia sejauh ini menurut laporan yang sama masih menempati posisi 16.

Mengacu pada kekuatan riil yang dimiliki Iran, tentu keputusan untuk terlibat dalam adu kekuatan militer dengan AS – konflik terbuka – termasuk sebuah keputusan yang berisiko tinggi bagi Iran.

Menurut pendekatan rational choice dalam kajian sosiologi, ini sebuah keputusan dipilih berdasarkan kalkulasi rasional. Yakni menghitung segala ongkos dan manfaat dari sebuah keputusan atau tindakan.

Apabila sebuah keputusan atau tindakan dianggap memiliki risiko (kerugian) lebih besar ketimbang manfaatnya, maka setiap aktor akan cenderung memilih alternatif lain.

Alberto Martinelli dalam Rational Choice And Sociology menyebutkan bahwa anggapan umum dalam pendekatan ini memandang basis keputusan sebuah tindakan didasarkan pada konsekuensi terbaik dari apa yang menjadi pilihan aktor.

Artinya, seseorang atau sebuah institusi tidak akan mengambil tindakan yang peluang keuntungannya jauh lebih kecil dari ongkos yang dikeluarkan. Dengan demikian, argumentasi rasionalitas menjadi kunci bagi sebuah keputusan atau tindakan.

Lalu, bagaimana dengan konteks perang antara Iran dan AS? Jika variabel kekuatan (riil) militer sebagai acuan, maka Iran sudah pasti menelan kekalahan jika perang itu terjadi. Kecuali, ada poros ketiga, seperti dukungan kekuatan negara lain yang memiliki kekuatan militer setara AS, sebut saja Tiongkok atau Rusia.
Pertanyaannya, apakah kedua negara bersedia bertempur membela Iran melawan AS?




FAKTA-FAKTA MEMANASNYA HUBUNGAN IRAN-AS


1. Jenderal Soleimani Tewas






 Jenderal Qassem Soleimani tewas pada Jumat (3/1/2020). Presiden AS Donald Trump mengklaim pembunuhan terhadap Soleimani. Pembunuhan itu sebagai tindakan pencegahan atas rencana Iran yang akan melakukan serangan terhadap AS.

"Soleimani merencanakan serangan dalam waktu dekat dan kejam terhadap diploma dan tentara AS, tapi kami menangkapnya saat beraksi dan mengakhirinya," ujar Trump.

Trump menggambarkan sosok Soleimani sebagai orang yang kejam dan menimbulkan kematian orang-orang tidak bersalah.

"Kami lega bahwa kekuasaan terornya telah berakhir," ucapnya.

2. Bendera Merah Iran Dikibarkan



Menyusul tewasnya Jenderal Soleimani, genderang perang ditabuh. Bendera merah Iran dikibarkan. Dikutip dari CNN, bendera merah Iran artinya panggilan untuk melakukan pembalasan terhadap kematian Soleimani.

Pertama kali dalam sejarah, bendera merah Iran dikibarkan di Masjid Jamkaran, sebuah tempat ziarah Syiah, di kota suci Iran Qom. Pengibaran bendera merah Iran dilakukan di tengah prosesi pemakaman Sang Jenderal, pada Sabtu (4/1/2020).

3. Iran Balas Amerika Serikat



Iran menembakkan sejumlah rudal ke pangkalan udara yang menjadi markas tentara Amerika Serikat (AS) di Irak. Iran menegaskan serangan rudal ini merupakan balasan atas serangan drone AS yang menewaskan Mayor Jenderal Qasem Soleimani pekan lalu.

Seperti dilansir AFP, Rabu (8/1/2020), media nasional Iran dalam pernyataannya mengumumkan serangan rudal terhadap target AS di Irak tersebut. Ditegaskan Iran bahwa 'respons yang lebih menghancurkan' akan diberikan jika AS kembali melancarkan serangan.

4. Harga Emas dan Minyak Melambung
 



Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menimbulkan efek ke harga emas hingga minyak mentah dunia. Harga emas global mencapai level tertingginya dalam hampir tujuh tahun karena disebut-sebut akan muncul world war 3. Pada Selasa lalu, emas Februari GCG20 telah naik 1,12% di Comex sebesar US$ 5,50 atau naik sekitar 0,4% di US$ 1.574,30 per ounce setelah naik 1,1% pada hari Senin. Harga tersebut tersebut melampaui harga tertinggi 9 April 2013.

Di Indoensia, harga emas Antam tercatat naik terus sejak akhir Desember 2019 lalu. Harga emas Antam terpantau merangkak naik sejak 26 Desember 2019 yang dijual di level Rp 758.000/gram.

Hari ini, harga emas Antam berada di angka Rp 799.000/gram. Harga ini tercatat naik Rp 15.000 dari posisi hari kemarin.

5. Harga Minyak Dunia Ikut Meningkat



Sementara harga minyak mentah dunia juga melonjak signifikan di tengah kekhawatiran konflik AS dan Iran yang dapat mengganggu pasokan global. Minyak mentah berjangka Brent naik US$$ 1,05 menjadi US$ 69,65 per barel, sementara minyak mentah AS naik 94 sen menjadi US$ 63,99.

SEORANG ULAMA IRAK MENYERUKAN DIAKHIRINYA SERANGAN


Seorang ulama Syiah Irak yang berpengaruh, Moktada al-Sadr , mengatakan pada hari Rabu bahwa krisis yang dialami Irak telah berakhir dan meminta kelompok-kelompok milisi untuk tidak melakukan serangan.

Mr al-Sadr mengatakan Irak harus tetap berusaha untuk mengusir pasukan asing, tetapi tampaknya meletakkan harapannya pada pemerintahan baru Irak. Seseorang yang mampu melindungi kedaulatan dan kemerdekaan negara harus dibentuk dalam 15 hari ke depan, katanya.

"Saya meminta faksi-faksi Irak untuk berhati-hati, sabar, dan tidak memulai aksi militer, dan untuk menutup suara-suara ekstremis dari beberapa elemen jahat sampai semua metode politik, parlementer dan internasional telah habis," katanya.

Pernyataan al-Sadr datang setelah pejabat Iran dan Amerika membuat pernyataan yang berusaha untuk mengeskalasi konflik.

Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi dari Irak juga merilis pernyataan pada hari Rabu yang mengatakan pemerintahnya akan "melanjutkan upaya intensnya untuk mencegah eskalasi" dalam konflik yang membara.

Setelah rudal Iran menghantam pangkalan-pangkalan yang menampung pasukan Amerika di Irak pada hari Rabu, Abdul Mahdi keberatan dengan pelanggaran kedaulatan negaranya.Komentarnya menggemakan pernyataan yang dia buat setelah serangan pesawat tak berawak Amerika menewaskan Mayjen Qassim Suleimani pada hari Jumat, dan setelah Amerika Serikat menyerang seorang milisi yang didukung Iran di Irak barat pada akhir Desember.

PARA PEMIMPIN EROPA MENGULANGI KOMITMEN MEREKA TERHADAP KESEPAKATAN NUKLIR

 

Mengatasi konflik as dengan iran pada hari rabu, trump meminta eropa untuk meninggalkan kesepakatan nuklir Iran 2015, seperti yang dia lakukan pada Mei 2018. Keinginannya mungkin tidak diindahkan.
Hanya beberapa jam sebelum presiden berbicara, para pemimpin Eropa mengulangi komitmen mereka terhadap kesepakatan itu dan mendesak Iran untuk kembali pada kepatuhan, bahkan dalam menghadapi sanksi keras Amerika.

Setelah pembunuhan Jenderal Suleimani, Iran mengumumkan bahwa itu tidak lagi akan dibatasi oleh kesepakatan, tetapi tidak mengatakan apa yang akan dilakukannya, meninggalkan ruang untuk eskalasi dan kembali ke kepatuhan.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dan kepala kebijakan luar negeri blok itu, Josep Borrell Fontelles, keduanya mengatakan perjanjian nuklir harus dilestarikan. Untuk itu, Ms. von der Leyen, mengatakan Mr. Borrell telah menjangkau semua penandatangan kesepakatan, termasuk Rusia dan China.

Iran, pada dasarnya, telah membuat mundur bertahap dari kewajibannya di bawah kesepakatan sejak Trump meninggalkannya dan menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran.

Inggris, Prancis dan Jerman, bersama-sama dengan Uni Eropa, Rusia, Cina dan Amerika Serikat menegosiasikan kesepakatan itu, tetapi hanya Washington yang menarik diri darinya. Iran secara teratur mengeluh bahwa orang-orang Eropa tidak berbuat cukup untuk memberi Iran manfaat ekonomi seperti yang dijanjikan dalam kesepakatan itu.

Negara mana pun yang memberikan bantuan keuangan Iran dapat melanggar sanksi dan berisiko terkena sanksi itu sendiri. Tetapi baik Rusia dan Cina telah menemukan cara untuk membeli setidaknya beberapa minyak Iran. Dan beberapa negara Eropa telah mengusulkan solusi untuk membantu Iran sambil mematuhi kebijakan AS.

Orang-orang Eropa mengatakan bahwa kesepakatan nuklir adalah untuk kepentingan nasional mereka dan telah mendesak Iran untuk kembali mematuhi.

Kesepakatan itu, Mr. Borrell mengatakan pada hari Rabu, adalah "hari ini lebih penting daripada sebelumnya, karena ini adalah satu-satunya tempat di mana kita dapat duduk bersama dengan Rusia dan Cina untuk berbicara secara multilateral tentang banyak risiko yang kita hadapi. Itu salah satu alat paling penting dari nonproliferasi dan keamanan regional."

PARA PEMIMPIN EROPA MENGECAM SERANGAN ROKET IRAN

 


Uni Eropa pada hari Rabu mengutuk serangan roket Iran di pangkalan Irak yang menampung tentara Amerika dan pasukan koalisi, mendesak diakhirinya "spiral kekerasan" yang telah mencengkeram wilayah tersebut. Blok itu juga mendesak kelanjutan dialog untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.

"Serangan roket terbaru di pangkalan udara di Irak yang digunakan oleh AS dan pasukan koalisi, di antaranya pasukan Eropa, adalah contoh lain dari eskalasi dan meningkatnya konfrontasi," kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell Fontelles. "Tidak ada kepentingan siapa pun untuk meningkatkan spiral kekerasan lebih jauh."

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan bahwa “penggunaan senjata harus dihentikan sekarang untuk memberi ruang bagi dialog, '' menambahkan,“ kita semua dipanggil untuk melakukan segala yang mungkin untuk menyalakan kembali pembicaraan, dan tidak mungkin ada cukup itu. ''

Perdana Menteri Boris Johnson dari Inggris, berbicara di Parlemen Inggris pada hari Rabu, menggemakan seruan untuk tenang tetapi mengatakan bahwa jenderal Iran yang terbunuh oleh Amerika Serikat pekan lalu memiliki "darah di tangannya."

Menteri luar negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, juga mengutuk serangan itu dan mengatakan bahwa ia berhubungan dengan "semua pihak yang terlibat untuk mendorong pengekangan dan tanggung jawab."


BACA JUGA : BAGAIMANA AS MENGAPRESIASI PERTAHANANNYA?

SETIDAKNYA 170 ORANG TEWAS KETIKA SEBUAH JET PENUMPANG JATUH DI DEKAT TEHERAN



Sebuah pesawat Boeing 737-800 dari Ukraina yang membawa sedikitnya 170 orang jatuh pada hari Rabu tak lama setelah lepas landas dari Teheran, menewaskan semua orang di atas pesawat, menurut media berita pemerintah Iran.

Keadaan kecelakaan itu tidak jelas. Outlet Iran mengutip masalah teknis dengan pesawat, yang menuju Kyiv, ibukota Ukraina.Kecelakaan itu terjadi pada saat yang menegangkan di Iran, karena konflik dengan Amerika Serikat membuat negara itu di ujung tanduk.

Foto-foto yang diposting oleh organisasi berita Iran menunjukkan penyelamat memeriksa puing-puing merokok di sebuah lapangan.Kantor Berita Pelajar Iran yang dikelola pemerintah membagikan sebuah video yang dikatakannya menunjukkan jatuhnya pesawat fajar, dengan cahaya jauh turun di kejauhan sebelum sebuah ledakan terang memenuhi langit saat tumbukan.

Pesawat tersebut, Ukraine International Airlines Penerbangan 752, berangkat dari Bandara Internasional Imam Khomeini pukul 6:12 pagi pada hari Rabu dan kehilangan kontak pada 6:14 pagi,menurut pelacak penerbangan .

Komentar

Popular Post

'PUBLIC SERVICE' ITU LADANG KONTRIBUSI ATAU LADANG EKSISTENSI?

Dunia maya kembali diramaikan dengan adanya sosok pria berseragam. Dilansir dari laman twitter @kapansarjana_, terdapat sebuah video yang menampakkan sosok polisi yang sedang memegang senjata dan berkata "Pacar kamu ganteng? Kaya? Bisa gini nggak?" sambil mengokang senjata yang dibawanya. Hal ini menimbulkan berbagai respon dari netizen. Menurut hemat penulis, hal ini wajar terjadi karena setereotip yang berlaku di masyarakat tentang pria berseragam. Namun, apakah menjadi wajar ketika membenci mereka kita menghujat mereka? Lalu dimanakah letak kesalahan pria berseragam sehingga dibenci khalayak ramai? Sejauh ini menjadi pria berseragam mungkin menjadi tujuan bagi beberapa orang. Entah alasan karir, menjadi penerus keluarga, ataupun alasan lain. Namun, yang perlu digaris bawahi dalam hal ini adalah resikonya. Bila sudah berstatus sebagai pria berseragam atau istilah kerennya A Man With Uniform, berarti harus siap disorot sebagai Pelayan Publik (Public Service). Tapi, sejauh in...

BEM UI RAMAI LAGI

BEM Universitas Indonesia kini ramai diperbincangkan kembali setelah memuat postingan yang cukup kontroversial. Melalui akun @BEMUI_Official, organisasi kampus tersebut langsung menyebut Presiden Joko Widodo sebagai King of Lip Service. Hingga sore ini, sebuah pesan bergambar Presiden Joko Widodo yang bermahkota merah telah mendapat lebih dari 19.000 likes dan ribuan komentar online. Fathan Mubina, seorang penghubung yang tercantum dalam pesan yang dikonfirmasi, mengungkapkan bahwa pihaknya merasa apa yang dikatakan orang nomor satu di berbagai saluran berita tidak sesuai dengan kenyataan. “Kami memiliki banyak masalah sosial dan politik yang perlu ditangani sebagai tugas utama di BEM. Dan beberapa di antaranya berurusan dengan presiden,” kata Fathan kepada TribunJakarta melalui telepon, Minggu (27 Juni 2021). “Dalam pemberitaan media (Presiden Jokowi) menyatakan tidak sejalan dengan pelaksanaannya, dan berusaha menunjukkan bahwa pelaksanaan pernyataan tersebut tidak serius, jadi berbe...

JOKOWI CARI MENTERI LAGI?

Kabar tentang reshuffle atau perombakan kabinet menggelinding dan menjadi bola liar usai Presiden Jokowi memarahi para menterinya di sidang kabinet. Reshuffle kabinet atau perombakan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju ini menjadi isu hangat yang terus menguat, terutama di kalangan partai politik. Isu ini menjadi perbincangan dan pergunjingan publik usai video rekaman rapat kabinet yang mempertontonkan kemarahan Jokowi dan akhirnya menjadi viral. Berbagai analisa dan asumsi bertaburan, baik di media massa, forum diskusi dan kedai kopi. Bahkan kalangan rakyat kecil pun ikut menyoroti hal ini. Wacana perombakan kabinet terlontar langsung dari mulut Jokowi. Ia kesal dan tak puas dengan kinerja para pembantunya di Kabinet Indonesia Maju. Kekecewaan dan kemarahan itu tampak dari kalimat-kalimat yang disampaikan Jokowi kala membuka sidang kabinet paripurna di Istana Negara. Gotong Royong Antar Menteri Mulai Luntur? Kabinet Indonesia Maju merupakan kabinet yang dirancang secara visioner da...