Pemerintahan Korea Selatan pada tanggal 22 Agustus ini mengumumkan bahwa telah memutuskan untuk melepas kerjama General Security Of Military Information Agreement (GSOMIA) yang telah dilaksanakan selama ini dengan Jepang. GSOMIA adalah sebuah perjanjian dan aturan antara pemerintah Jepang dan Korea Selatan dalam rangka bertukar informasi intelijen untuk menangani bagaimana pergerakan dan ancaman yang berasal dari Korea Utara. GSOMIA telah berlangsung semenjak pemerintahan Park Guen-hye pada bulan November tahun 2016 yang mana telah menjadi bentuk symbol keamanan dan pertahanan antara kedua negara tersebut. Apabila GSOMIA dilepas oleh korsel maka kedepan semakin sulit untuk pertukaran informasi antara Jepang dan Korsel.
Hal yang semakin penting diperhatikan apabila GSOMIA dibubarkan adalah permasalahan terhadap misil Korut kedepan. Jepang semakin tidak mampu mendapatkan informasi situasi dan kondisi di medan maupun informasi tentang strategi tempur. Sedangkan Korsel semakin sulit mendapatkan data analisis misil yang diluncurkan oleh Korut karena Jepang jauh lebih unggul dalam bidang system analisis yang dimilikinya. tidak hanya itu, hal ini juga akan berdampak pada koordinasi baik dari segi keamanan dan latihan bersama yang semakin sulit untuk dilaksanakan. menganggapi hal ini banyak pihak pengamat internasional dari Jepang yang menilai bahwa Korea Selatan sudah tidak memandang Jepang sebagai negara partner, malainkan sebagai musuh negaranya. Dan bagi Presiden Korsel yang lebih diutamakan sebagai partner korsel adalah Korut ketimbang Jepang. Hal ini membuat semakin jelas akan pemikiran Presiden Korsel tidak sesuai lagi dengan tujuan GSOMIA dan menjadi alasan utama untuk meninggalkan GSOMIA.
KEPUTUSAN MENGEJUTKAN PRESIDEN MOON JAE-IN
Ada hal yang sedikit membingunkan dan mengejutkan internasional dalam keluarnya Korsel dari GSOMIA. sebagaimana diketahui, pada tanggal 9 Agustus lalu dalam pertemuan dengan Mentri pertahanan Amerika Serikat Mark Esper, Presiden Korsel Moon Jae-in menegaskan pentingnya kerja sama Korsel-Jepang-Amerika. Dalam pidato hari kemerdekaan korsel pada tanggal 15 agustus lalu, Presiden Moon menyampaikan bahwa Korsel dengan senang hati membuka jalan negosiasi untuk bekerja sama, serta menunjukkan posisi untuk merima langkah politik untuk berdamai. Namun demikian pada tanggal 21 agustus dalam pertemuan antara Menlu Korsel dan Jepang, Korsel menilai Jepang tidak bisa diajak bernegosiasi. Hal ini yang kemudian membuat Korsel memilih untuk meninggalkan GSOMIA.
Dalam pertemuan yang berjalan kuran lebih 40 menit tersebut sangat jelas bahwa Jepang tidak menunjukkan sikap untuk menerima keinginan Korsel begitu pula sebaliknya. Apabila Jepang mengalah dan menerima tuntutan Korsel meskipun dianggap sangat memberatkan Jepang, mungkin sikap Korsel tidak akan sampai dengan meninggalkan perjanjian tersebut. Namun dari sisi Jepang sendiri keinginan Korsel dinilai terlalu berlebihan dan terlalu melawati batas. Pemerintah Amerika terkejut atas keputusan Moon dan memberikan peringantan kepada pemerintah Korsel untuk memikirkan ulang keputusannya. Kemudian keputusan Presiden Moon yang tidak mengindahkan peringatan amerika ini mengartikan bahwa ada usaha Korsel untuk menjauh dari kerjasama Jepang dan Amerika serikat. Banyak yang masih menjadi pertanyaan mendalam bagi keputusan presiden moon yang lebih pro-Korut, meski Korsel sendiri masih belum memiliki kedekatan dengan rusia maupun China apabila sudah melepas dari aliansi Jepang dan Amerika serikat. Hal ini tentu memberikan pengaruh tersendiri kepada situasi keamanan di asia timur.
Meskipun Amerika bereaksi sangat keras terhadap keputusan pemerintahan Moon, berbeda dengan reaksi tersebut situasi dalam negeri Amerika sendiri tidak begitu banyak pemberitahuan yang membahas masalah keputusan lepasnya korsel dari GSOMIA. Ada sebuah kemungkinan dimana terlihat masyarakat amerika yang sebenarnya tidak memiliki ketertarikan yang mendalam tentang lepasnya korea dari perjanjian GSOMIA tersebut. Buktinya dengan sangat sedikitnya pemberitaan yang disiarkan di Amerika yang membahas masalah tersebut. Mungkin tidak secara keseluruhan amerika tidak tertarik dengan permasalahan ini, dan pastinya ada orang-orang khusus yang memperhatikan perkembangan antara jepang dan korea saat ini. Mungkin juga dapat diambil pemikiran bahwa amerika berusaha mengambil posisi yang netral tanpa bertepuk sebelah tangan pada salah satu negera karena keduanya adalah negara koalisi Amerika Serikat. Namun jika diperumpamakan bagi amerika permasalahan antara korea selatan dan jepang ini bagai hanya seperti angin dalam gelas, yang mengartikan sangat kecilnya perhatian amerika akan hal tersebut meski dalam permasalahan ini sudah jelas terdapat permasalahan dalam pemerintahan korea selatan yang tidak konsisten.
PRESIDEN TRUMP YANG MEMUTUSKAN UNTUK BERTEMU DENGAN KIM JONG-UN
Permasalahan GSOMIA ini ada kemungkinan dipicu dari keinginan pertemuan Trump dengan Kim Jong-Un yang tiba tiba pada bulan maret tahun 2018 lalu dan secara nyata telah bertemu di Singapura pada tanggal 12 bulan Juni 2018. Ada kemungkinan besar hal ini masih terkait dengan Presiden korea selatan Moon Jae-in yang turut mendukung pertemuan tersebut dan secara tidak langsung hal ini akan mendorong Amerika mendukung Korea Selatan dari berbagai aspek. Apabila Korea Selatan mendapatkan perhatian lebih dari Amerika maka otomatis akan mengurangi peran Jepang dalam hal permasalahan yang menyangkut korea utara selama ini.
ALIANSI KORSEL-AMERIKA-JEPANG YANG SEMAKIN RAPUH
Perlu dicermati dengan melihat pergerakan Korea Selatan dari masa perang dingin yang sudah mulai terdapat tanda untuk menjauh dari aliansi Korsel-Amerika-Jepang. Hal ini juga dimungkinkan dengan alasan Perubahan lingkungan Internasional yang terjadi di Kawasan Asia timur itu sendiri. Apabila tidak adanya inisiatif Pertemuan Trump dengan Kim Jong-un, mungkin aliansi dengan Korsel dan Jepang justru akan kuat kembali seperti pasca perang dunia kedua yang mana, Amerika membentuk dinding keamanan sepanjang laut china timur sampai dengan jepang utara. dengan semakin kuatnya hubungan Korut-Korsel dan Korut Amerika pada akhirnya menjadikan alasan yang jelas bagi Moon Jae-in untuk melepas peran jepang yang dianggap tidak terlalu penting lagi. kerapuhan dari aliansi ini akan menjadi bahan tawaan oleh China dan Rusia yang mana sempat mewaspadai aliansi Korsel-Amerika-Jepang, kini rapuh dengan sendirinya. Yang semakin parahnya adalah secara nyata saat ini Jepang dan Korsel memasuki babak perang dingin.
Refrensi Artikel :
http://www.1242.com
https://www.thesundaily.my
http://kankokukeizai.kill.jp
https://seijichishin.com/




Komentar
Posting Komentar